Kamis, 28 Mei 2009

romo mangun tentang pendidikan dasar

Dunia persekolahan tidak mengajar anak didik untuk berpikir, untuk ekspoloratif dan kreatif. Seluruh suasana dan gaya persekolahan adalah penghafalan tanpa pengertian yang memadai, taat kepada komando, sedangkan bertanya apalagi berpikir kritis praktis adalah tabu. Siswa tidak didik tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut - tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang "pintar dan terampil" dalan sirkus. Jikalaupun ia diajari sesuatu, maka sesuatu itu diajarkan tanpa konteks sosial budayanya. Sistem pengajaran semacam itu bagus untuk kaum militer yang memang kodratnya dipersiapkan demi dunia komando didalam keadaan perang, tetapi fatal untuk anak didik yang justru harus bebas untuk bertanya, bahkan berani untuk bertanya karena harus berjiwa eksploratif dalam segala situasi dan kondisi, agar kreatif dan konstruktif nantinya.

Namun, ternyata salah satu masalah sosial budaya yang sangat rawan dan rupa-rupanya menuju ke jurang ialah dunia persekolahan kita. Ini kita catat tanpa menyalahkan pelaku pelaku pendidik serta pengajarnya, khususnya para guru, karena mereka hanya menjalankan politik pendidikan dan pengajaran. Mereka bukan pengambil keputusan dan pengatur siasat dasarnya. Khususnya lagi di jajaran sekolah dasar, karena disinilah dasar dari segala struktur persekolahan diatasnya, maka harus dibangun secara bagus dan berkualitas tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas-universitas maupun sekolah-sekolah lanjutan atas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan! Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala-galanya yang nanti dibangun diatasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing-puing. Seperti atap akan rontok apabila tiang-tiang roboh karena umpak-pondasinya lemah. JIKA DAYA PIKIR DAN SEMANGAT EKSPLORATIF DAN KREATIF BERANTAKAN DARI AKAR-AKARNYA, MAKA APAPUN YANG KITA PERBUAT TIDAK AKAN BERBOBOT DAN SITUASI SOSIAL BUDAYA MENJADI SANGAT RAWAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar